Nama Chiki Fawzi menjadi sorotan publik setelah dirinya dikeluarkan dari jajaran petugas haji 2026 melalui jalur influencer. Keputusan ini membuat putri Ikang Fawzi tersebut mengaku kecewa, terlebih karena ia merasa telah menjalani seluruh proses dan tahapan yang diminta panitia.
Chiki mengungkapkan alasan utama yang membuatnya sulit menerima keputusan tersebut. Ia menilai ada upaya untuk melindungi pihak-pihak tertentu yang berujung pada pencoretan namanya. “Tapi yang bikin aku nggak terima adalah ketika mungkin ada beberapa orang yang berusaha untuk menyelamatkan beberapa nama entitas,” ungkap Chiki Fawzi di Studio Trans TV Mampang, Jakarta Selatan, kemarin.
Tak hanya itu, Chiki juga mengaku menjadi korban fitnah dengan berbagai tuduhan yang menurutnya sama sekali tidak berdasar. Ia membantah tuduhan miring kepadanya. “Lalu benar-benar ngefitnah aku dengan berbagai hal. Aku nggak terima dituduh dengan syarat-syarat di pencopotan apa? Inkompetensi, hamil, apa dan sebagainya,” katanya.
Chiki dengan tegas membantah seluruh tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak hamil dan merasa telah menjalankan tugas serta pelatihan dengan maksimal sejak awal. “Aku nggak hamil, aku nggak inkompeten. Aku hadir. Aku ikutin semua kegiatan di barak, pelatihan dari jam 4 pagi sampai jam 9.30 malam. Itu non-stop lho. Jam 4 pagi kita sudah salat Subuh, absen, lalu kita lari. Aku ikutin tiap hari sama teman-teman,” bebernya.
Meski menghadapi situasi sulit, Chiki menyebut memilih untuk bertahan dan memperjuangkan kebenaran atas apa yang dialaminya. “Jadi itu dia. Jadi aku sendiri banget loh ngelawan ini semua. Bukan ngelawan ya, lebih ke bertahan,” ujarnya.
Di tengah polemik tersebut, Chiki mengaku mendapat banyak dukungan, terutama dari orang-orang yang mengenalnya secara nyata dan memahami situasinya. “Sebenarnya kalau orang-orang yang akun real dan aku lihat yang waras sih, support ya. Mereka ngelihat situasi aku tuh sulit, semacam seperti dijebak dan mereka banyak banget yang ngirim support dan doa,” katanya.
Menurut Chiki, sebagian besar masukan dan interaksi yang ia terima di dunia nyata justru bersifat positif. Sementara itu, ia menilai isu tersebut kerap dibesar-besarkan di media sosial. “Jadi kebanyakan masukan dan interaksi yang aku dapat di dunia nyata itu tuh positif. Tapi memang di social media tuh digoreng banget. Gitu sih, dan ya orang yang waras tahulah ya,” pungkas Chiki.






