Berita

Bau Menyengat RDF Rorotan Kembali Picu Protes, Operasional Dihentikan Sementara Lagi

Advertisement

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, kembali memerintahkan penghentian sementara operasional fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara. Keputusan ini diambil menyusul gelombang protes dari warga yang mengeluhkan bau menyengat diduga berasal dari aktivitas pengolahan dan pengangkutan sampah di lokasi tersebut.

Riwayat Protes dan Penghentian Operasional

Fasilitas RDF Rorotan telah berulang kali menjadi sorotan warga akibat masalah bau busuk yang timbul dari proses pengolahan dan pengangkutan sampah. Berdasarkan catatan, ini bukan kali pertama operasional RDF Rorotan dihentikan sementara akibat keluhan warga.

Uji Coba Pertama Dihentikan Maret 2025

Pada Sabtu, 22 Maret 2025, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengumumkan penghentian sementara uji coba RDF Rorotan. Penghentian ini dilakukan setelah adanya laporan bahwa anak-anak dan warga sekitar mengalami gangguan kesehatan. Sebanyak 11 anak dilaporkan menderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), sementara tiga anak lainnya mengalami infeksi mata.

“Benar (ditutup sementara) sesuai dengan arahan Pak Gubernur saat berkunjung ke RDF Rorotan,” ujar Asep Kuswanto kala itu.

Asep Kuswanto menjelaskan bahwa bau tak sedap yang ditimbulkan RDF Rorotan disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk deodorizer yang belum berfungsi optimal, pengolahan limbah cair yang masih kurang maksimal, serta kondisi cerobong yang memerlukan perbaikan. Gubernur Pramono Anung kala itu berjanji akan bertanggung jawab atas kesehatan warga yang terdampak dan memerintahkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk menangani masalah tersebut.

Penghentian Kedua November 2025

Selang beberapa bulan, pada November 2025, Gubernur Pramono Anung kembali menghentikan sementara proses commissioning atau uji operasional RDF Rorotan. Kali ini, keluhan warga dipicu oleh bau menyengat yang diduga berasal dari tumpahan air lindi (cairan sampah) saat pengangkutan sampah menuju fasilitas tersebut.

“Dari hasil commissioning beberapa hari ini, sebenarnya terhadap RDF Rorotan sendiri masyarakat tidak komplain terhadap alatnya. Yang menjadi masalah adalah ketika sampahnya diangkut, truknya itu tidak compact, sehingga air lindinya tumpah dan menyebabkan bau,” jelas Pramono di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Selasa, 4 November 2025.

Ia menambahkan bahwa masalah ini baru mencuat dalam beberapa hari terakhir, terutama saat curah hujan meningkat. Sampah yang lebih basah menyebabkan air lindi dalam truk pengangkut meluber ke jalan, menimbulkan bau tidak sedap di sekitar kawasan Rorotan.

Untuk mencegah dampak lingkungan lebih lanjut, Pramono memerintahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta untuk menghentikan sementara kegiatan commissioning RDF Rorotan. Langkah ini akan terus berlanjut hingga seluruh armada pengangkut sampah diperbaiki dan dilengkapi sistem penahan air lindi yang kedap. Pemprov DKI juga berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah dan dampak lingkungannya, termasuk meninjau dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) RDF Rorotan.

Advertisement

Protes Terbaru Januari 2026

Pada Jumat, 30 Januari 2026, Gubernur Pramono Anung kembali meminta kegiatan operasional fasilitas RDF Rorotan dihentikan sementara. Ia menegaskan bahwa persoalan utama RDF Rorotan bukanlah pada proses pengolahannya, melainkan pada sistem pengangkutan sampah.

“Dan mudah-mudahan, untuk sementara ini, saya minta untuk disetop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini,” kata Pramono di kawasan Rorotan, Jakarta Utara.

Menurutnya, air lindi yang menetes dari armada pengangkut sampah lama menjadi sumber bau yang memicu keluhan masyarakat. “Begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes. Inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat,” ujarnya.

Pramono menyebut RDF Rorotan telah beberapa kali menjalani proses commissioning dengan kapasitas 200 hingga 500 ton per hari dan relatif tidak menimbulkan masalah. Namun, masalah muncul saat proses transportasi sampah menuju fasilitas tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, Pemprov DKI Jakarta telah membeli armada pengangkut sampah baru pada tahun 2025 dan melarang penggunaan kendaraan lama yang dinilai tidak layak. “Yang lama saya tidak izinkan untuk digunakan. Mudah-mudahan ini bisa mengatasi persoalan transportasi sampah di Rorotan,” jelasnya.

Dalam dialog dengan warga, beberapa warga menyampaikan keluhan dampak kesehatan akibat bau RDF, mulai dari sakit fisik hingga tekanan mental. Pramono menegaskan Pemprov DKI Jakarta siap bertanggung jawab apabila warga harus menanggung biaya pengobatan.

Tentang RDF Rorotan

Fasilitas RDF Plant Jakarta di Rorotan dirancang untuk menghasilkan produk Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar serpihan sampah. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti batu bara pada industri semen. Dengan kapasitas pengolahan sampah hingga 2.500 ton per hari, fasilitas ini mampu menghasilkan bahan bakar alternatif sebanyak 875 ton per hari. Residu dari hasil pengolahan sampah ini berbentuk kepingan-kepingan kaleng, kayu, dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Advertisement