Berita

Dewan Pakar Hoegeng Awards Ungkap Sulitnya Seleksi Polisi Berintegritas

Advertisement

Proses penentuan penerima Hoegeng Awards melibatkan tahapan seleksi yang panjang dan ketat untuk mencegah adanya calon titipan. Pada Hoegeng Awards 2026, lima Dewan Pakar dari berbagai latar belakang dilibatkan, termasuk Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Wahid, Anggota Kompolnas Gufron Mabruri, Pendiri IOJI sekaligus mantan Plt Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, dan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman. Kelima nama tersebut juga merupakan Dewan Pakar pada Hoegeng Awards tahun sebelumnya.

Kesulitan Menentukan Kandidat Terbaik

Dalam acara puncak Hoegeng Awards 2025, para dewan pakar menyampaikan betapa sulitnya menentukan penerima penghargaan. Gufron Mabruri mengungkapkan bahwa semua usulan yang masuk memiliki poin dedikasi yang tinggi.

“Tentu tidak mudah bagi kami tim dewan juri dalam memilih mana yang terbaik, karena ternyata, polisi-polisi yang masuk nominasi, semuanya berdedikasi dan menjadi teladan di tengah masyarakat kita,” kata Gufron di PTIK, Jakarta, Rabu (16/7/2025).

Ia menambahkan bahwa proses seleksi berlangsung mendalam dan penuh ketelitian. Kandidat yang masuk nominasi disaring dengan hati-hati dari 10 besar hingga 3 besar, dan semuanya telah menjalani uji publik.

Hal senada diakui oleh Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman. Ia menyatakan bahwa menentukan pemenang dari para kandidat yang ada merupakan tugas yang sangat sulit.

“Ada dua hal yang perlu saya sampaikan terkait Hoegeng Awards ini, pertama soal betapa sulitnya bagi kami dewan pakar untuk menentukan 1 dari 3 calon yang terbaik, susah sekali,” ujar Habiburokhman.

Habiburokhman membandingkan kesulitannya memilih penerima Hoegeng Awards dengan pengalamannya memilih pejabat publik.

“Saya sebagai anggota Komisi III punya pengalaman, di sini banyak orang yang pernah saya pilih, ada Pak Harto (Suharto) Hakim Agung saya yang pilih, ada Ibu Anis (Anis Hidayah) Komnas HAM saya yang pilih, Bu Putu (Putu Elvina) juga, Pak Setyo (Setyo Budiyanto) Ketua KPK saya yang pilih, Ketua KY Pak Amzulian (Amzulian Rifai) saya yang pilih, ya ternyata memilih penerima Hoegeng Awards jauh lebih sulit daripada memilih para pejabat tadi,” tuturnya.

Ia mengakui adanya potensi subjektivisme dalam pengambilan keputusannya sendiri, namun menegaskan bahwa tidak ada celah untuk titipan dalam Hoegeng Awards.

“Sulit, terutama bagi saya yang memang dalam ambil keputusan ada sisipan subjektivisme, ya, jadi bagi kenalan saya, saudara saya, kalau mau nitip di Hoegeng Awards saya nyerah. Gimana saya harus taklukkan Ibu Allisa, Pak Ota, Pak Gufron, nggak mungkin melobi mereka, mereka orang yang kredibilitasnya sangat sangat teruji, nggak ada subjektivisme, nggak ada ego di sini, benar-benar pure nama yang terpilih adalah yang terbaik dari yang baik-baik semua,” jelasnya.

Advertisement

Polisi Berintegritas, Warisan Jenderal Hoegeng

Alissa Qotrunnada Wahid menekankan bahwa Polisi Berintegritas merupakan warisan utama dari almarhum Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Dewan Pakar bekerja keras untuk memastikan para nomine benar-benar mewujudkan kejujuran.

“Polisi berintegritas adalah legacy Jenderal Polisi Hoegeng yang utama. karenanya Dewan Pakar Hoegeng Awards 2025 bekerja keras untuk memastikan bahwa para nomine kategori polisi berintegritas terbukti mengejawantahkan kejujuran,” ujar Alissa dalam malam puncak Hoegeng Awards 2025 di Auditorium Mutiara STIK-PTIK Polri, Jakarta Selatan, Rabu (16/7/2025).

Ia menambahkan bahwa polisi berintegritas harus memiliki kebesaran jiwa untuk menerima konsekuensi dari pilihan mereka. Para polisi ini memilih jalan yang sunyi dan terjal, menolak jalan pintas dan gemerlap sorotan.

“Menolak jalan pintas, menolak gempita lampu sorot yang mengundang keinginan untuk menampilkan diri dan menentukan dengan tegas bahwa kemuliaan bagi dirinya adalah menjaga nilai dan prinsip luhur Kepolisian Republik Indonesia,” tegasnya.

Sosok polisi berintegritas, menurut Alissa, berfungsi sebagai obor bagi polisi lain di Indonesia dan menjadi teladan serta tolok ukur jati diri Polri.

“Menjadi tolok ukur jati diri polisi Republik Indonesia, polisi rakyat, teladan mengabdi,” pungkasnya.

Mekanisme Seleksi Hoegeng Awards 2026

Penjaringan kandidat penerima Hoegeng Awards 2026 telah dimulai sejak Selasa, 27 Januari, melalui pengusulan formulir digital. Pembaca detikcom dapat mengusulkan nama polisi yang dinilai patut menjadi teladan melalui tautan yang disediakan. Penerima penghargaan Hoegeng Awards 2026 akan diumumkan pada Juli 2026.

Berikut adalah mekanisme seleksi Hoegeng Awards 2026:

  1. Daftarkan anggota polisi di sekitarmu yang dinilai patut menjadi kandidat penerima Hoegeng Awards 2026 dengan mengisi formulir digital.
  2. Isi identitas diri pengusul, termasuk nama lengkap, alamat email, dan nomor seluler.
  3. Isi identitas polisi kandidat, termasuk nama, pangkat, dan tempat berdinas. Sertakan foto dan video jika memungkinkan.
  4. Informasi yang telah divalidasi akan diberitakan secara selektif.
  5. Anggota polisi yang didaftarkan akan diseleksi menjadi 15 besar oleh Dewan Pakar yang terdiri dari tokoh masyarakat dan institusi kredibel di luar Polri.
  6. Aspek penilaian meliputi integritas dan dampak kepada masyarakat.
  7. Dari 15 besar, akan disaring menjadi 5 penerima penghargaan Hoegeng Awards 2026 setelah profil dibuat dan dilakukan uji publik di detikcom.
  8. Penerima penghargaan akan diumumkan pada Juli 2026.
Advertisement