Sejumlah label musik mendesak agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Cipta dapat secara tegas mengatur konten musik yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Langkah ini dinilai krusial untuk melindungi hak ekonomi para pencipta lagu dan musisi dari potensi tergerusnya pendapatan.
Tantangan Serius Industri Musik
Usulan ini disampaikan oleh Managing Director Universal Music Studio, Wisnu Surjono, saat rapat bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Wisnu menyoroti perkembangan teknologi AI sebagai tantangan serius bagi industri musik.
“Terus tantangan berikutnya adalah dengan perkembangan teknologi dengan Artificial Intelligence (AI). Kami bukan hanya label sebenarnya teman-teman pencipta dan teman-teman musisi juga mengharapkan ada aturan yang jelas. Karena kalau tidak ada aturan yang jelas hak-hak kami pasti akan mulai tergerus,” ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, jumlah konten musik berbasis AI yang beredar saat ini meningkat pesat dan berpotensi menjadi pesaing langsung karya musik konvensional. Ia memperkirakan ada ratusan ribu hingga jutaan konten AI yang diunggah setiap bulan.
“Karena saat ini kami mendengar sudah ada ratusan ribu sampai jutaan konten yang diupload tiap bulan AI, dan itu jadi pesaing kami,” kata Wisnu.
Ketimpangan Proses Produksi
Kondisi ini menciptakan ketimpangan signifikan dengan proses penciptaan karya musik oleh manusia yang memerlukan waktu dan biaya besar. Wisnu membandingkan, “Mereka mungkin bisa bikin konten AI dalam waktu cuma 10 menit, sedangkan label dengan pencipta lagu dengan produser dan musisi kalau menciptakan satu karya bisa berbulan-bulan dengan biaya investasi yang lebih besar.”
Senada dengan itu, Managing Director Musica Studios, Gumilang Ramadhan, mengungkapkan bahwa sebuah perusahaan AI di China dilaporkan mampu memproduksi ribuan konten musik dalam sehari.
“Beberapa bulan yang lalu saya rapat di Korea pak, itu di China AI itu dalam satu hari ada satu perusahaan bisa membuat 3.500 konten pak. Itu satu perusahaan pak 3.500 pak,” ungkap Gumilang.
Ia menambahkan, proses produksi lagu di industri musik konvensional memakan waktu lama dan belum tentu berhasil di pasar. “Kita untuk mengedarkan satu lagu aja dua lagu aja dalam satu bulan itu prosesnya bulanan pak, 3 bulan, 4 bulan, dan belum tentu berhasil,” ujarnya.
Sumber Royalti Konten AI
Ketua Baleg DPR RI, Bob Hasan, mempertanyakan sumber royalti dari konten musik AI yang diproduksi tanpa melalui mekanisme industri musik konvensional.
“Pak kalau AI itu kan juga ada ciptaannya pak, ada hasilnya gitu loh pak. Kalau mereka tanpa melalui label atau tanpa melalui prosedur-prosedur itu mereka dapetnya dari mana pak? Dapat royalti dari mana?” tanya Bob Hasan.
Gumilang menjelaskan bahwa pembuat konten AI memperoleh royalti dari karya musik yang telah beredar di platform digital.
“Dapat royalti dari yang sudah beredar pak. Dari platform digital. Betul pak,” jawab Gumilang.
Gumilang menegaskan bahwa industri musik tidak menolak perkembangan AI, namun mendorong adanya regulasi yang jelas agar kolaborasi dapat berjalan secara adil.
“Itu pak kalau kita memang kita gak bisa memberhentikan pak tapi kita harus bisa berkolaborasi dengan aturan yang baik pak,” tutur Gumilang.






