Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan 76 sekolah hasil program Revitalisasi Satuan Pendidikan di Aceh. Peresmian ini menandai upaya pemulihan layanan pendidikan pascabencana dan memastikan sekolah kembali menjadi ruang belajar yang aman dan layak bagi siswa.
Revitalisasi Pendidikan Pascabencana
Program revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya nasional dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi satuan pendidikan yang terdampak bencana. Ditargetkan, program ini akan tuntas secara bertahap pada tahun 2026.
Di SD Negeri 12 Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Abdul Mu’ti meresmikan secara simbolis 53 satuan pendidikan hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Program ini dilaksanakan untuk memulihkan infrastruktur pendidikan pascabanjir bandang dan longsor yang melanda wilayah dataran tinggi Gayo.
“Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Karena itu, revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan pendidikan,” kata Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).
Relokasi dan Pembangunan Sekolah Terdampak Bencana
Dalam kunjungan kerjanya, Abdul Mu’ti meninjau langsung sejumlah sekolah terdampak bencana, termasuk satuan pendidikan yang masih melaksanakan pembelajaran di ruang darurat. Ia menyatakan pemerintah akan merelokasi sekolah yang berada di zona rawan bencana serta mempercepat pembangunan fasilitas pendidikan baru.
Terkait kondisi SMP Negeri 22, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, yang rusak berat dan sudah beberapa kali tertimpa longsor, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa bangunan sekolah tersebut sudah tidak memungkinkan untuk digunakan. Pemerintah Pusat telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk merelokasi sekolah ke lokasi baru yang telah disiapkan.
“Insyaallah, sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan pembangunan Unit Sekolah Baru pada tahun 2026,” ujarnya.
Sementara itu, untuk SD Negeri 12 Bintang yang terkena longsor di bagian belakang bangunan, pihaknya akan memberikan bantuan tambahan berupa pembangunan ruang kelas baru.
Peresmian di Aceh Utara
Sehari sebelumnya, Rabu (28/1/2026), Abdul Mu’ti juga meresmikan 23 satuan pendidikan yang terpusat di SMA Negeri 1 Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Sekolah ini menjadi bagian dari program rehabilitasi satuan pendidikan terdampak bencana yang dilaksanakan sesuai standar keselamatan bangunan dan kebutuhan pembelajaran.
“Pemerintah berharap upaya revitalisasi ini dapat memperkuat pemerataan layanan pendidikan yang aman, inklusif, dan berkualitas. Sekaligus memastikan pemulihan pendidikan pascabencana berjalan berkelanjutan khususnya di daerah terdampak,” ujarnya.
Rincian Sekolah yang Rampung
Saat ini, dari hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2025, jumlah sekolah yang telah rampung 100 persen dibangun dan direhabilitasi sebanyak 36 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah dan 17 sekolah di Kabupaten Bener Meriah. Seluruhnya siap dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
Modernisasi Pembelajaran dan Dukungan Guru
Sejalan dengan penguatan infrastruktur fisik, Abdul Mu’ti mendorong modernisasi pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi. Sekolah-sekolah yang telah menerima Papan Interaktif Digital (PID) akan diperkuat dengan dukungan konektivitas internet, termasuk layanan internet berbasis satelit untuk mengatasi kendala geografis di wilayah pegunungan dan daerah terpencil.
Abdul Mu’ti juga menyebut akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan pendukung, termasuk pembangunan ruang guru dan rumah dinas guru. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan layanan pendidikan, khususnya di wilayah terpencil.
Dampak Nyata Revitalisasi
Dampak revitalisasi ini dirasakan sangat berarti bagi satuan pendidikan. Yusbida, dari SLB Negeri Silih Nara Angkup, Takengon, dan Marhamah, Kepala SMAN 1 Timang Gajah Bener Meriah, mengungkapkan bahwa sebelum program revitalisasi, sekolah mereka menghadapi keterbatasan dan kerusakan sarana prasarana yang berdampak pada proses pembelajaran.
Melalui program revitalisasi, kedua sekolah tersebut kini memiliki ruang belajar dan fasilitas penunjang yang lebih layak, aman, dan fungsional, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan peserta didik dapat belajar dengan nyaman.
“Saya berharap, program Revitalisasi Satuan Pendidikan dapat terus berlanjut agar semakin banyak sekolah di daerah memperoleh lingkungan belajar yang layak,” kata Yusbida.
Sementara Marhamah mengungkapkan kondisi rumah ibadah sekolah dan laboratorium IPA yang rusak sehingga tidak dapat dimanfaatkan. “Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Mendikdasmen atas perhatian dan dukungan pemerintah (merehabilitasi sekolah) karena manfaatnya dirasakan nyata,” pungkasnya.






