Agam – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendampingi Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung pengerjaan ruas Jalan Malalak-Bukittinggi di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Kunjungan ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan jalan pascabencana yang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Jalur Vital Terputus Akibat Banjir Bandang
Peninjauan yang dilaksanakan pada Rabu (28/1/2026) ini berfokus pada ruas Jalan Malalak, sebuah jalur vital yang menghubungkan antarwilayah di Sumatra Barat. Banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu menyebabkan putusnya jembatan dan kerusakan berat di sejumlah titik. Akibatnya, aktivitas ekonomi terhenti, pasar tutup, dan akses pendidikan terganggu karena warga terpaksa menyeberangi sungai.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, Bupati Agam Benny Warlis, Bupati Tanah Datar Eka Putra, Kepala BPJN Sumbar Elsa Putra Friandi, Kepala BWS Sumatera V Naryo Widodo, serta jajaran pemerintah pusat dan daerah lainnya.
Komitmen Pemerintah untuk Pemulihan Permanen
Andre Rosiade menegaskan kehadiran Menteri PU di lapangan merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat terdampak. Ia menekankan bahwa pemulihan Jalan Malalak tidak boleh dilakukan setengah-setengah.
“Jembatan ini sempat putus total dan aktivitas masyarakat lumpuh. Anak-anak sekolah harus menyeberang sungai. Karena itu kami mendorong agar penanganannya cepat, tetapi juga permanen dan aman ke depan,” ujar Andre di lokasi peninjauan.
Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa Kementerian PU telah mengambil langkah cepat dengan memasang dua unit Jembatan Bailey sebagai solusi darurat untuk menjaga mobilitas dan arus logistik tetap berjalan. Pembangunan jembatan sementara ini diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu sejak bencana terjadi.
“Selain jembatan sementara armco dan Bailey, kami sedang menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen. Kondisi geografis Malalak cukup menantang karena curam, rawan longsor, dan berada di kawasan hutan lindung serta cagar budaya, sehingga desainnya harus benar-benar matang,” kata Dody.
Mitigasi Bencana dan Anggaran Pemulihan
Lebih lanjut, Dody menyatakan Kementerian PU juga tengah mengkaji pembangunan sabo dam sebagai bagian dari mitigasi bencana. Infrastruktur ini dirancang untuk menahan aliran material dari kawasan pegunungan yang bermuara ke kilometer 74, titik yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang, sekaligus menjaga agar jalan tidak kembali terisolasi di masa mendatang.
Untuk mendukung pemulihan menyeluruh Jalan Malalak, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 667 miliar yang dialokasikan melalui APBN tahun anggaran 2026-2027. Anggaran ini mencakup perbaikan jalan, pembangunan jembatan permanen, serta upaya mitigasi bencana jangka panjang.
Selain sektor jalan dan jembatan, Kementerian PU juga mulai melakukan pemulihan jaringan irigasi yang rusak akibat bencana. Penanganan irigasi dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V, dengan usulan anggaran sekitar Rp 400 miliar. Pemulihan ini dinilai krusial karena sebagian besar warga di kawasan Malalak berprofesi sebagai petani.
Program Padat Karya dan Antisipasi Kebutuhan Ramadan
Menjelang Ramadan dan arus mudik Lebaran, Dody memastikan bahwa fungsi Jembatan Bailey akan terus dijaga agar distribusi logistik tetap lancar. Kementerian PU juga menyiapkan langkah antisipasi penyediaan air bersih, termasuk pembangunan sumur bor di masjid-masjid jika terjadi gangguan pasokan.
Pemerintah pusat juga turut menggulirkan program Padat Karya sebagai bagian dari pemulihan ekonomi warga terdampak bencana. Sekitar 40 ribu tenaga kerja lokal dilibatkan di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo, masyarakat terdampak bencana tidak boleh terganggu ekonominya. Karena itu kami libatkan langsung warga dalam program Padat Karya,” tegas Dody.
Gubernur Mahyeldi menyambut baik komitmen pemerintah pusat. Ia menilai penanganan Jalan Malalak sangat menentukan kelancaran konektivitas serta pemulihan ekonomi Sumatera Barat.
“Jalan Malalak ini sangat vital. Kami berharap penanganannya tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berorientasi mitigasi bencana ke depan,” pungkas Mahyeldi.






