Sosok Udeh Nans, seorang stunt coordinator berpengalaman, telah lama menjadi tulang punggung di balik adegan-adegan ekstrem yang memukau penonton di layar lebar. Dengan rekam jejak yang panjang, ia bertanggung jawab merancang dan mengkoordinasikan berbagai adegan laga berbahaya, mulai dari kejar-kejaran mobil hingga tubuh terbakar.
Perjalanan Karier yang Penuh Risiko
Udeh Nans, yang memiliki nama asli Saifuddin Mubdy, memulai perjalanannya dari Pemalang. Kecintaannya pada film, terutama The Terminator, menumbuhkan cita-cita untuk berkarier di dunia laga. Pada awal tahun 2000-an, ia nekat merantau ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai hotelier demi mengejar mimpi menjadi stuntman.
Karier stuntman-nya dimulai di berbagai sinetron laga Indonesia, di mana ia kerap memerankan karakter yang harus menghadapi bahaya fisik. Ia tak gentar menerima pukulan, terlempar jauh, hingga tertabrak kendaraan. Jam terbang yang tinggi tentu berbanding lurus dengan cedera yang ia alami, mulai dari leher nyaris patah, dislokasi bahu, hingga cedera lutut dan tulang rusuk. Semua itu ia jalani dengan upah yang relatif kecil, sekitar 150 ribu rupiah per bulan dengan uang makan 15 ribu rupiah per hari.
“Ya itu tahun 2005. Kondisi saya juga numpang di kantor PH (Production House, red)-nya. Tidur hanya beralaskan koran, bantalnya itu ya pakai tas saya itu. Saya bujangan, tidak punya tanggungan, ya kan?” ucap Udeh dalam program Sosok detikcom.
Transisi Menjadi Stunt Coordinator
Seiring bertambahnya usia dan kesadaran akan keterbatasan karier sebagai stuntman, Udeh bertekad untuk naik jenjang karier menjadi stunt coordinator. Ia tekun mengasah kemampuannya sembari tetap aktif bekerja. Pada tahun 2016, ia berhasil mengikuti kelas Stunt Academy di Australia, yang menjadi bekal penting untuk memulai karier barunya.
Sepulangnya dari Australia, Udeh Nans mantap menapaki jalan sebagai stunt coordinator. Ia terlibat dalam berbagai produksi film besar, baik domestik maupun internasional, termasuk duologi The Raid (2011 & 2014), Grisse (2018), duologi Agak Laen (2024 & 2025), Monkey Man (2024), Tinggal Meninggal (2025), Sore: Istri dari Masa Depan (2025), dan Abadi Nan Jaya (2025).
Membangun Ekosistem Stunt yang Lebih Baik
Berbekal pengalaman pahit sebagai stuntman, Udeh Nans berupaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan aman bagi para pelaku stunt. Ia mendirikan PT Pejuang Laga Indonesia, yang dikenal sebagai Pejuang Stunt, untuk menaungi mereka secara lebih terorganisir. Organisasi ini mencakup sistem pembayaran yang adil, penyaluran kru yang profesional, peningkatan keamanan kerja, hingga pengembangan kapasitas dan solidaritas antar stunt.
“Saya mengutip dari pernyataannya Bruce Law, salah satu stunt coordinator mobil. Jadi jika ada stunt yang cedera, berarti saya orang jahat. Saya bikin orang terluka dalam pekerjaan yang saya naungi. Jadi saya sangat memegang itu, jangan sampai ada stunt ataupun pemain cedera pada saat saya bertugas atau di project-project yang saya naungi,” jelas Udeh.






